RSS

Mendidik Anak Cinta dan Hafal Alqur’an

Catatan kecil ini adalah sebagian hal yang saya endapkan setelah mengikuti Seminar Parenting Qur’ani: “Mendidik Generasi Cinta dan Hafal Qur’an” yang diselenggarakan oleh Pengurus Wilayah Salimah DIY pada Ahad 19 April 2015 kemarin. Mengapa saya sebut sebagian? Karena saya datang terlambat..hehe. Berhubung paginya kami harus menghadiri acara gathering dan sarapan pagi DPC PKS Bantul yang mana suami tidak bisa absen karena diberi amanah untuk mengisi acara, nah, kira-kira jam 10.00 lebih kami sampai di auditorium MMTC—lokasi acara. Alhamdulillah, suami bisa ikut seminar di sela-sela jadwalnya yang belakangan padat. Sangat bersyukur, soalnya kalau saya sendirian, biasanya saya yang gumunan ini pada akhirnya sangat kesulitan memilah mana yang akan ditransfer ke suami, baru kemudian kami tentukan apa yang akan ditindaklanjuti. Jalurnya pajang banget kan yak? Beda kalau seminarnya bareng, sambil nyimak biasanya sambil memilah milah ini lho, yang kita belum lakukan, dan seterusnya.

Baiklah.… mari kembali ke topik seminar. Pembicaranya adalah Ustadzah Dr. Sarmini, Lc. Ummahat Jakarta yang juga aktif di pimpinan pusat Salimah, dosen di kampus LIPIA, sambil mengasuh Rumah Qur’an Utrujah, juga menulis buku Alhamdulillah Balitaku Hafal Qur’an. Meski bekerja, beliau tetap mendidik sendiri putra-putrinya yang juga penghafal Qur’an (homeschooling). Rata-rata mereka lancar membaca Alquran di saat balita, beliau ajari sendiri dengan metode utrujah yang beliau kembangkan. Putri sulung beliau, Saudah, menyelesaikan setoran hafalan 30 juz di usia 7,8 tahun. Masya Allah. Kebayang kan, wow-nya? (tuh kan..gumunannya kumat..saya mah gitu orangnya :p)

Secara umum, ada beberapa poin yang saya simpulkan (sendiri) dari materi yang beliau sampaikan. Soal pentingnya Alquran dan keutamaan menghafal, tidak saya bahas disini ya… anggap saja sudah lewat dan kita telah sama-sama memahami bahwa ini penting. Selebihnya, saya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang saya rumuskan sendiri sebagai berikut:
Mengapa sejak dini? Balita? Beneran nih, sekecil itukah?

Jawabannya jelas: iya, dan beliau telah membuktikannya. Barangkali ada sebagian orang (termasuk saya dan suami) beranggapan seperti ini: didik sajalah anak senatural mungkin. Biar puas bermain di masa kecilnya, bersosialisasi bersama teman-temannya, hingga saat dia telah bisa memutuskan mana yang baik dan buruk untuk dirinya, dia akan mengambil pilihan menghafalkan alqur’an dengan kesadaran: ayah, ibu, aku mau menghafal qur’an! Pandangan ini tidak sepenuhnya salah, hanya saja berisiko tinggi. Apakah kita tidak memperhitungkan jeda waktu yang sekian lama dengan berbagai kemungkinan ‘lain’ terjadi pada masa itu? Di era gadget dengan berbagai risikonya, dengan tingkat pergaulan yang tidak memberikan jaminan sterilitas dari teman-temannya—bahkan di sekolah Islam sekalipun, serta berbagai hal yang memungkinkan dia pada akhirnya memilih jalannya sendiri: aku tidak mau jadi penghafal alqur’an ah, nggak asik. Naudzubillah.

Maka masa kanak-kanaklah waktu terbaik untuk menginstall kecintaannya kepada alqur’an, juga menanamkan cita-cita untuk menjadi ‘penjaga’nya. Saat fitroh anak-anak masih terlindungi, saat ketergantungannya kepada orang tua belum terlepas, maka itulah saat yang paling tepat. Ya, saat ia masih ‘jernih’. Hal ini sejalan dengan berbagai penelitian yang menunjukkan bahwa daya ingat pada masa-masa golden age ini akan terekam kuat untuk seterusnya. Kalau pepatah Arab mengatakan, ibarat mengukir di atas batu. Masya Allah. Mari kita ikuti tradisi para ulama, yakni dengan mandahulukan pendidikan alqur’an sebelum yang lainnya. Sejak dini. Yakinlah, bahwa kalamullah yang mulia ini adalah sebaik-baik ilmu, dan bekal berharga untuk ilmu-ilmu selanjutnya.

Antara menghafal dan membaca: apa pentingnya mengajari anak membaca alqur’an terlebih dahulu?

Nah, inilah termasuk pertanyaan saya sejak lama. Selain terpengaruh dengan teori pendidikan yang mengatakan bahwa anak dibawah usia sekian belum patut diajari symbol-simbol (wich is closely related to membaca—termasuk Alquran), saya juga agak aras-arasen merespon syiar mengajar membaca alqur’an sejak dini karena pada kenyataannya tetap mudah mengajarkan tahfidz kepada anak kami (Taqiyya) secara oral. Ya, ia tetap bisa menghafal dengan baik selama ini meski belum bisa membaca alqur’an.

Apa kata ustadzah Sarmini? Pertama, hati-hati propaganda yang secara sistematis ingin memundurkan generasi Islam dengan cara menjauhkan anak-anak dengan Alquran. Kitabullah berbeda, tidak dengan standar manusia, tetaplah ajari anak membaca Alqur’an sedini mungkin—tentu dengan metode yang tepat. Kedua, menghafal secara talaqqi pada akhirnya akan terpentok pada fase ketika pendamping (atau orang tua) mengalami kerepotan tertentu yang tidak bisa dihindarkan, sementara saa titu anak masih bergantung penambahan hafalannya dengan ditalqin, sehingga justru menghambat proses tahfidznya. Sedangkan anak-anak yang sudah bisa membaca, dia dapat berusaha menambah hafalannya secara mandiri sehingga meringankan pendampingnya (misalnya untuk orang tua dengan banyak anak, dsb). Tidak masalah mengawali dengan ditalqin, tetapi jika ingin hafalannya banyak, ajarkan ia membaca alquran dan menghafal secara mandiri—sehingga pendamping tinggal mengawal setoran dan murojaahnya saja. Ketiga, persoalan kita yang lebih utama adalah menumbuhkan kecintaan dengan alqur’an. Menghafal juga penting, tetapi, kecintaan akan tumbuh lebih subur saat anak terbiasa memiliki jadwal atau target khusus membaca Alquran setiap harinya, berinteraksi dengan mushaf alqur’an.

(lebih lanjut tentang metode utrujjah akan disampaikan dalam follow up seminar ini, yakni berupa pelatihan bagi orang tua untuk mengajari anak balita membaca alqur’an dengan efektif dan menyenangkan)

Bagaimana kiat khusus mengajarkan membaca sejak kecil?

Mulailah dengan yang mudah. Seorang anak mungkin merasa bahwa dari belakang lebih mudah, atau mulai awal juz 30 lebih mudah, atau loncat surat yang menurutnya lebih mudah untuk dihafal, tidak masalah. Yang terpenting anak konsisten menghafal—hingga mutqin—dan insya Allah kelak semua dapat terkumpul 30 juz. Berikan kemudahan, dan jangan mempersulit mereka. Selalu berikan motivasi bahwa ia dapat melakukannya.

Sebagai bentuk feedback, orang tua dapat memberikan reward sesuatu yang disukai anak. Bagaimana prinsip reward? Apa saja dan sebervariasi mungkin, mulai dari sesuatu yang bersifat fisik hingga sesuatu yang bersifat maknawi. Dan bila perlu, visualisasikan rewardnya. Ustadzah bercerita, pernah menjanjikan sesuatu untuk putrinya juka berhasil mencapai target khataman. Reward tersebut dibungkus dengan sesuatu yang transparan, lalu gantung/tempatkan di lokasi yang susah dijangkau anak. Anak tidak diperbolehkan menyentuhnya samasekali kecuali target telah tercapai. Mulanya anak mungkin anak akan memohon diizinkan meski hanya untuk menyentuhnya, tetapi asal orang tua konsisten, rasa penasaran dan keinginan kuat untuk mendapatkan reward tersebut akan memompa anak untuk menyelesaikan targetnya.

Buatlah tantangan, siapkan hadiah atau bila perlu kejutan. Khawatir anak akan ketergantungan dengan reward? Beliau mengilustrasikan begini, (dan selanjutnya membuat mayoritas peserta yang merupakan ibu-ibu jadi ger-geran) “ibu kalau ada toko, jualan sesuatu, dan disitu pasti ada diskon, mau beli disitu atau pilih di took lain yang nggak ada diskonnya?” (jawab: disituuuu… *sambil malu-malu*). “Kalau bulan depan ada diskon lagi, mau nggak beli disitu lagi?” (jawab: mauuuuu *meringis*). “Itu ketergantungan nggak namanya bu?” (klakep dehh..hehe) Kesimpulannya: menyoal reward tadi, bisa jadi selama ini kita sekedar “khawatir” anak bakal ketergantungan, dan sebenarnya anak tidak sampai benar-benar ketergantungan. Prinsipnya, jika itu baik, kenapa tidak? Kalau untuk hal lain, misalnya penampilan, kita bisa memberikan prioritas khusus, mengapa tidak jika itu untuk pendidikan anak, dalam hal ini alqur’an? Nah!

Bagaimana menumbuhkan motivasi anak?

Pertama, jadikan Alqur’an sebagai isu utama sehari-hari di rumah. Keteladanan orang tua dalam hal ini mutlak diperlukan. Selain itu, tumbuhkan juga persepsi positif bahwa prestasi yang berhubungan dengan Alquran adalah lebih penting dibandingkan dengan prestasi lainnya—termasuk prestasi akademik. Ustadzah Sarmini sendiri memilih homeschooling bagi anak-anaknya agar mereka bisa memberikan focus lebih kepada Alqur’an, tanpa harus membebani mereka dengan beban akademis sebanyak sekolah pada umumnya (dengan asumsi, insya Allah untuk standarisasi akademis semacam UN akan mengikuti kecemerlangan mereka dalam menghafal qur’an). Selain itu, ajarkan anak-anak untuk lebih hormat kepada kakak/adiknya yang memiliki hafalan Alquran lebih banyak. Tanamkan kepada mereka, bahwa jika Allah saja memuliakannya, apalagi kita manusia?
Kedua, rayu anak dengan hal-hal yang paling disenangi. Saat anak mulai mencari-cari alasan untuk berangkat mengaji, misalnya, lalu ia mulai mengajukan syarat A, B, dan C, sesungguhnya yang ia tuju bukanlah syaratnya, tetapi bagaimana ia bisa melobby orangtuanya agar ia tidak perlu mengaji seperti biasa. Oleh karena itu, orang tua jangan sampai ‘kalah’, penuhi saja syarat-syarat yang diajukan selama masih ‘masuk akal’. Munculkan titik-titik kompromi yang berorientasi kepada kebaikan bersama. Saat ia menolak sesuatu, jangan pula lupakan untuk mencari tahu akar penyebabnya, dan hendaknya mulai dari situlah solusi dicari.

Kendala orang tua, bagaimana cara mengatasinya?

Orang tua yang multitasking—bekerja, bermasyarakat, berdakwah, mengurus rumah tangga, dan sebagainya, tentu memiliki masalah mereka sendiri diluar kewajiban mendidik anak. Hal ini sangat manusiawi, hanya saja perlu kita perhatikan bahwa jangan sampai justru masalah-masalah itulah yang menghambat interaksi anak-anak kita dengan Alqur’an. Misalnya, sebisa mungkin atasi dan antisipasi kelelahan berlebih yang membuat kita urung mendampingi anak belajar Alqur’an. Orang tua juga tidak perlu terlalu kaku dengan target, misalnya jika menjadwal mengaji setiap ba’da maghrib sampai dengan isya, sementara suatu saat waktu tersebut terpaksa terisi dengan agenda lain (ada tamu, dan sebagainya), orang tua dan anak bisa bersama-sama merancang waktu pengganti. Selain itu, saat lelah, kadang orang tua mudah marah dan tidak sabaran. Bagaimana mengatasinya? Istighfarlah, bila perlu ucapkan di hadapan anak, “bismillah, insya Allah ummi bisa menahan marah”. Dengan demikian bisa menjadi control juga untuk diri kita pribadi. Di lain waktu, ajak anak untuk bersama-sama berdoa, menguatkan motivasinya. Lakukan sholat hajat dan khususkan doa untuk kemudahan mengajarkan dan mendampingi anak mempelajari alquran.

Bagaimana dengan pembagian peran antara ibu dan ayah? Asal soal visi dan misi sama-sama tuntas, secara teknis banyak pilihan bisa ditempuh. Sebagian mungkin menyerahkan secara khusus pendampingan anak terkait menghafal ini kepada ibunya. Sebagian lain bisa jadi ayahnyalah yang lebih berperan. Bergantian juga bisa, atau berbagi tugas. Ustadzah Sarmini menceritakan tentang interaksi beliau dengan orang tua Musa Al Hafidz (pemenang Hafidz Indonesia RCTI tahun lalu), Masya Allah, ternyata ayahnya lah yang intensif mendampingi Musa. Bagaimana dengan ibunya? Apakah bersantai-santai saja? Tidak, ibunya kebagian jatah mendampingi adiknya Musa (dulu juga kontestan Hafidz Indonesia, 3,5 tahun). Karena si adik lebih ‘bisa’ menghafal dengan ibunya, maka disepakatilah pembagian tersebut. Allahu akbar…. Keren banget yaa :’)

Terakhir… temukan komunitas. Sebagaimana keimanan seseorang akan berkonsekuensi dengan didatangkannya ujian, maka keistiqomahan dalam mendekatkan diri kepada Allah melalui Alquran juga banyak tantangannya. Di antara karakteristik hafalan alqur’an adalah, mudah dihafalkan dan mudah pula hilang hafalannya. Kenyataannya, justru disinilah mukjizatnya. Saat seseorang berkomitmen menghafalkan alquran, harus diiringi pula dengan kemauan kuat untuk terus mengulang-ulang hafalannya—dengan demikian interaksinya dengan Alqur’an terus terjaga. Saat semangat atau keistiqomahan kita menurun, komunitas inilah yang akan menjaga kita. Maka sangat dianjurkan kepada penghafal Alquran untuk bergabung dengan komunitas penghafal juga, entah di pesantren, rumah tahfidz, lembaga pendidikan dan sebagainya.

What’s next? Saatnya beramal. Praktik. Action. Alhamdulillah, kami beruntung bisa memulainya dari anak pertama (Kata Ustadzah Sarmini, keberhasilan pada anak pertama inilah yang nantinya insya Allah memudahkan kita untuk mendidik anak selanjutnya, sebab sudah ada role model). Dan benar, peran komunitas sangat penting—dan kami bersyukur telah menjadi bagian dari keluarga Rumah Tahfidz Arraihan Bantul. Meski masih seumur jagung, semangat kami insya Allah bisa saling menjaga sesame saudara untuk terus istiqomah mendidik generasi-generasi baru yang cinta dan hafal Alquran.
Jazakumullah kepada seluruh pimpinan wilayah Salimah DIY, ditunggu lanjutan seminarnya ya…

 

Tags: , , , , , , , , , ,

Tips Mengajarkan Anak Untuk Terbiasa Shalat

(Dari http://www.islampos.com)

Kamis 5 Jamadilakhir 1436 / 26 Maret 2015 11:50

KARENA shalat adalah kewajiban umat muslim, maka dari itu perlu orang tua untuk mengajarkannya dalam rangka pembiasaan kepada anaknya, agar kelak nanti mampu menjalankannya dengan baik dan benar. Berikut cara atau tips mengajarkan anak untuk terbiasa shalat.

1.Teladan: Memberikan keteladanan dengan cara mengajak anakmelaksanakan shalat berjamaah di rumah.

Keteladanan yang baik membawa kesan positif dalam jiwa anak. Orang yang paling banyak diikuti oleh anak dan yang paling kuat menanamkan pengaruhnya ke dalam jiwa anak adalah orang tuanya.

Oleh karena itu, Rasulullah saw memerintahkan agar orang tua dapat menjadi teladan yang baik bagi anak-anak mereka. Pada tahap awal, keteladanan yang dapat dicontoh anak adalah gerakan-gerakan shalat. Pada tahap berikutnya keteladanan yang bisa diberikan orang tua adalah bacaan shalat dengan suara yang terdengar oleh anak.

Sehingga anak tidak hanya mendapatkan stimulasi gerakan shalat tapi juga bacaan shalat.Masa anak-anak adalah masa meniru dan memiliki daya ingat yang luar biasa. Orang tua harus menggunakan kesempatan ini dengan baik, jika tidak ingin menyesal kehilangan masa emas ( golden age ) pada anak.

2.Melatih berulang-ulang

Melatih gerakan dan bacaan shalat pada anak usia dini hendaknya dilakukan dengan cara berulang-ulang Semakin sering anak usia dini mendapatkan stimulasi tentang gerakan shalat, apalagi diiringi dengan pengarahan tentang bagaimana gerakan yang benar secara berulang-ulang maka anak usia dini semakin mampu melakukannya.

Begitu juga dengan bacaan shalat. Semakin sering di dengar oleh anak, maka semakin cepat anak hafal bacaan shalat tersebut. Sekalipun pemberi teladan yang utama adalah ayah dan ibu, diharapkan orang dewasa lainnya yang tinggal bersama anak juga bisa menjadi teladan bagi anak.

Sehingga ketika ayah tidak ada di rumah dan ibu berhalangan memberikan teladan, makapemberian latihan tetap bisa berlangsung oleh orang dewasa lainnya yang tinggal bersama anak.

3.Suasana nyaman dan Aman.

Menghadirkan suasana belajar shalat yang memberikan rasa aman dan menyenangkan bagi anak dalam menerima seluruh proses pendidikan shalat yang diselenggarakan saat anak usia dini mengikuti gerakan orang tua dalam shalat, pada tahap awal terkadang bisa mengganggu kekhusukan shalat orang tua.

Orang tua harus dapat memahami bahwa tindakan anak meniru gerakan orang tua adalah proses belajar, sehingga sekalipun anak dapat mengganggu kekhusukan shalat orang tua, anak tidak boleh di marahi atau dilarang dekat dengan orang tua saat shalat.

Pengarahan tentang bagaimana tata cara shalat yang benar kita ajarkan kepada anak setelah proses shalat berlangsung. Dalam tahap lanjut, anak tidak hanya bisa meniru gerakan shalat, tapi juga memiliki kebanggaan untuk menggunakan simbol-simbol islami baik dalam ucapan maupun perilaku dalam shalatnya dan sebagainya.

4.Tidak Memaksa: Tidak melakukan pemaksaan dalam melatih anak usia dinimelakukan shalat.

Perkembangan kemampuan anak melakukan gerakan shalat adalah hasil dari pematangan proses belajar yang diberikan.

Pengalaman dan pelatihan akan mempunyai pengaruh pada anak bila dasar-dasar keterampilan atau kemampuan yang diberikan telah mencapai kematangan. Kemudian, dengan kemampuan ini, anak dapat mencapai tahapan kemampuan baru yaitu dapat melakukan gerakan shalat sekalipun belum berurutan.

5.Tidak membanding-bandingkan

Secara fisik, semakin bertambah usia anak maka semakin mampu melakukan gerakan-gerakan motorik dari yang sederhana sampai yang komplek. Namun perlu diperhatikan adanya keunikan setiap anak.

Bisa jadi tahapan perkembangan gerakan motorik antara anak pertama lebih cepat dibandingkan anak kedua. Oleh karenanya, penting bagi orang tua untuk memperhatikan perkembangan seseorang, dan tidak membanding-bandingka dengan sang kakak atau anak yang lain yang seusia dengan anak.[aldi/anakkreatif]

 
Leave a comment

Posted by on March 26, 2015 in artikel parenting, being parents

 

Tags: , , , , , ,

Mengasuh tanpa Mengasihi

Oleh: Mohammad Fauzil Adhim

Kemajuan teknologi membantu para orangtua dalam mengasuh anak tanpa mengasihi. Anak-anak tenang sehingga orangtua dapat semakin tenggelam dalam kesibukan yang seolah-olah sangat penting bagi kehidupan masyarakat.

Sibling rivalry atau perseteruan antar saudara lebih mudah dihindari dengan memanfaatkan teknologi canggih. Mudah, sederhana dan melalaikan. Mau tahu caranya? Dua anak yang nyaris sebaya tak perlu ribut bertengkar karena berebut roti tawar. Dua HP cukup untuk membuat mereka tenang, asyik dengan gadget, meski tak ada makanan yang disiapkan buat mereka. Berbekal gadget untuk masing-masing anak, mereka tidak perlu ribut satu sama lain. Tetapi mereka tidak pula bermain bersama.

Inilah paradoks teknologi informasi dan komunikasi (ICT: Information and Communication Technology). Makin canggih alat komunikasi, makin menjauhkan manusia dari komunikasi berkualitas. Makin bergeser pula fungsi informasinya ke arah hiburan semata. Kian banyak yang kecanduan gadget dari usia dini. Kasus anak kecanduan gadget bahkan telah menimpa semenjak anak usia 3 tahun sebagaimana terjadi di Korea Selatan tahun 2012. Kasus ini masih merebak hingga kini.

Bersebab kecanduan piranti digital, anak-anak tak lagi mengenal permainan yang menggalang kebersamaan dan kerjasama sekaligus mengasah empati semacam petak umpet atau gobag sodor. Ketika anak usia 3 tahun pun dapat terjangkiti digital addiction (kecanduan peranti digital), akan sulit bagi mereka untuk melakukan permainan alami. Anak-anak itu pun bahkan mengalami kesulitan untuk melakukan kontak sosial dan tatap muka dengan baik. Handicapped.

Maka, anak-anak yang tidak memiliki riwayat genetis maupun terpapar sebab-sebab fisik pencetus autisme, dapat mengalami gejala autisme. Mirip, tapi sama sekali berbeda. Muncul istilah autisme sosial (social autism), meskipun sebenarnya tak dikenal dalam kajian autisme. Sebab sesungguhnya mereka tidak autis. Jadi, autisme sosial sama sekali bukanlah istilah yang berhubungan dengan autisme. Tetapi ini lebih berkait akibat kecanduan gadget. Secara pribadi, saya lebih suka menggunakan istilah kecanduan gadget atau keterasingan diri, bukan autisme sosial, meskipun dampak kecanduan gadget memang luas.

Apa yang harus kita lakukan jika anak sudah kecanduan gadget? Ups. Periksa dulu, jangan-jangan kita yang perlu terapi terlebih dulu. Apa yang kita kerjakan pertama kali saat hadapi hidangan di resto? Jangan-jangan belum mencicipi sudah sebar foto.

Apa yang dapat kita lakukan? Beragam, sesuai kondisi anak. Tapi kunci pentingnya adalah kesediaan meluangkan waktu untuk anak kita. Sengaja meluangkan waktu akan menjadi saat berharga untuk anak kita. Inilah saatnya berbincang dan berbagi cerita dengan mereka. Semoga anak-anak kita merasakan betapa berharga kesempatan berjumpa, berbincang dan bercanda dengan kita. Mereka senantiasa merindui itu. 

Gadget bukan terlarang. Tapi kita perlu menyiapkan mereka dan kita sendiri agar kehadirannya menjadi jalan kebaikan. Gadget benar-benar berfungsi sebagai teknologi informasi dan komunikasi.

Cttn: digotong dari whatsapp

 

Tags: , , , , , , , ,

Mendidik dengan Cermin

Kutatap lekat mata bulatnya yang berkaca-kaca sejak tadi.
“Maafkan ummi ya, Kak, jika kata-kata ummi bikin Kakak kurang nyaman…”
Ia mengangguk, kupeluk ia erat. Aku pun berpamit pulang sebelum menatapnya berjalan masuk ke gerbang sekolah.

Di perjalanan pulang, yang tersisa hanyalah penyesalan. Masih terasa dua lengan kecilnya memeluk kuat-kuat pinggangku sepanjang perjalanan tadi. Tanpa kata-kata apapun. Sama-sama diam. Tak seperti biasanya. Mungkin sama-sama merenung, mungkin.

Ya, aku sadari sepenuhnya bahwa diri inilah yang bermasalah. Bukan dia. Bahkan alasan apapun tak dapat membenarkan caraku berbicara soal susu kepadanya tadi. Ia terus protes sebab logikaku membagi susu kotak untuk dia dan adiknya tidak konsisten. Niatku memang benar untuk berbuat adil, tapi ‘masalahku’ membuat diri ini gagal menyampaikannya dengan benar. Pada akhirnya dia menyerah, mungkin sudah mengerti maksudku, atau menyadari bahwa tak seharusnya ia selalu minta lebih dan lebih banyak,  atau bisa jadi ia lelah berdebat, lalu menyadari ada yang tidak beres dengan ibunya sehingga ia tak mungkin menang, dan memilih diam. Entahlah. Tapi aku lega telah mengakhirinya dengan meminta maaf, mengalahkan egoku sebagai orang tua ‘yang selalu benar’ dan mengesampingkan sederet pemakluman diri bahwa saat itu aku sedang ‘punya masalah’.

Note for parents
Sebagai orang tua kadang kita  menganggap anak bermasalah, padahal sejatinya kita sendirilah yang bermasalah. Kita menganggap anak ‘overcurious‘ dengan gadget padahal kita sendiri belum bisa menahan dan mengatur adiksi kita dengan smartphone (dan semacamnya) di hadapan anak-anak, berdalih bahwa ‘ini untuk sesuatu yang penting’–menurut kita. Lupa bahwa menurut anak2, bisa jadi rasa penasarannya dengan berbagai fitur gadget orang tuanya juga sangat penting. Atau ada di antara kita yang merasa kesulitan membelajarkan anak-anak sholat, padahal kita sendiri belum sempurna menunjukkan keteladanan dalam mencintai dan berkomitmen terhadap sholat. Jangan-jangan sulitnya pembatasan TV pada anak adalah bentuk lain dalam kegagalan kita menata prioritas aktivitas, misalnya saat (meski sedikit) menunda sholat karena sayang meninggalkan ending tayangan yang lagi seru-serunya. Pun pada kesempatan lain, saat orangtua komplain kepada seorang kakak yang ‘tiba-tiba’ bicara atau berlaku kasar dengan adiknya, apakah orangtua yakin sudah berhasil memanjangkan sumbu kesabarannya saat si anak melakukan kesalahan? Atau dengan mudahnya menyimpulkan: ini akibat pengaruh teman atau tontonan?

Bismillah, mari kita tutup tulisan ini dengan istighfar sebanyak-banyaknya. Lalu bercermin. Lihatlah diri kita lekat-lekat. Orang tua seperti apakah kita sehingga berani berharap anak-anak yang sempurna?

***

Untuk Kakak Taqiyya, maafkan ummi atas segala ketidaksempurnaan ini. Izinkan ummi belajar untuk lebih baik lagi :’)

 
Leave a comment

Posted by on March 23, 2015 in being parents, self talk

 

Tags: , , , ,

The Pursuit of Independence

Pasangan muda mana sih yang tidak ingin memulai kehidupan baru dari nol? Menikmati masa-masa berdua saja tanpa ‘campur tangan’ orang tua dan imagemertua; bertahan hidup dengan berbagai keterbatasan; jatuh bangun menata rutinitas ibadah di antara ritme hidup baru, belajar hidup dengan tetangga baru, mengurus anak dan rumah dengan kemampuan sendiri, dan sebagainya. Sayangnya tidak semua orang bisa menjalani kehidupan awal pernikahan seideal itu. Contohnya, ada beberapa teman yang tinggal serumah dengan orang tua atau mertua tersebab kewajiban merawat mereka saat usia lanjut. Kami sendiri, sempat menjalani masa ‘ideal’ hidup terpisah dengan mengontrak di dekat kampus karena belum lulus kuliah saat menikah sebelum akhirnya ‘dipanggil’ orang tua suami untuk menempati rumah Bapak-Ibu yang dikosongkan untuk kami (fyi kalau orangtua saya, tinggal jauh di Jawa Tengah).

Terlepas dari berbagai pertimbangan kami mengiyakan permintaan tersebut, kekhawatiran utama saya saat itu adalah tantangan membangun independensi. Mengapa? Sebab kami tinggal sekompleks dengan keluarga besar. Kalau saat mengontrak kami bisa menikmati masa-masa kekurangan sampai harus gresek receh sekedar untuk beli tempe sepotong lalu dimanipulasi agar bisa dimakan sehari semalam berdua, dengan tinggal di dekat keluarga tentu kecil kemungkinan kami akan kekurangan dalam hal makan. Belum lagi soal mengasuh dan mendidik anak. Panjang lagi ceritanya, tentu ada perbedaan-perbedaan sepele yang bisa jadi menguras energi…hehe.

Alhamdulillah, sampai saya menuliskan ini kami sudah menjalaninya 5 tahun lebih dan kekhawatiran saya tidak terbukti. Beruntung, keluarga besar–suami terutama bapak ibu mertua saya–adalah keluarga aktivis sehingga sangat berpengaruh dalam cara mereka membangun interaksi. Sejauh ini, saya merasakan bagaimana mereka menghormati keputusan-keputusan besar yang kami ambil. Pada hal-hal kecil pun mereka tidak campur tangan. Ibu sangat berhati-hati dalam menasihati saya, biasanya hanya memberi masukan apabila saya meminta. Bagi orang lain, barangkali hubungan kami nampak tidak dekat dan terkesan cuek, baiklah tak apa. Sebab bagi saya itulah cara beliau berdua membiarkan kami mandiri. Kadang ada sih, keinginan untuk bisa lebih dekat. Bisa cerita ini-itu, ngobrol sana-sini, curhat apa saja. Tapi nggak bisa je. Kalau dipaksakan malah jadi aneh, jadi saya urungkan saja keinginan itu. Bagi saya, hubungan ‘berjarak’ kami adalah bentuk cinta yang spesial. tsaaaah :p

Lain lagi dengan cara Bapak. Bapak lebih ‘cuek’ lagi. Jarang sekali lho, kami mengobrol kecuali saat semobil bersama. Sebutuh apapun kami dengan mobil saat hendak bepergian misalnya, suami akan berhitung 1001 kali untuk memutuskan, yak oke pinjam. Saya sempat sulit percaya saat suami cerita bagaimana kedekatannya dengan sang ayah saat kecil, sering diajak bepergian saat libur, diantar ke sekolah dan sebagainya. Sampai nggak kebayang. Tapi ada satu fase ketika saya benar-benar merasakan sendiri, yakni saat kami mengetahui diam-diam beliau memantau dan ‘membantu’ kami tanpa kami ketahui. Ya, tepat! Hubungan ‘berjarak’ yang dibangun bapak bukan tanpa maksud. Itulah bukti kasih dan cara beliau mendidik kami.

Duh, nulis ini jadi melting nih.. :’)

Saya bisa membayangkan bagaimana sulitnya mereka menahan diri untuk mengetahui apapun tentang kami, demi berusaha membatasi campur tangan mereka. Bahkan tidak pernah lho, mereka tahu berapa penghasilan suami saya sampai dengan tahun keenam pernikahan. Padahal kan, wajar saja ya, terutama bagi ibu, untuk mengetahui berapa penghasilan anaknya. Mereka jelas berhak, tapi tidak mereka lakukan. Baru tahun keenam, saat suami mendapatkan amanah menjadi anggota legislatif, pendapatan keluarga ia sampaikan demi menenangkan orang tuanya, seberapa pendapatan dan untuk apa saja peruntukannya.

Bukan hanya soal kemapanan material. Saya membayangkan, tentu tidak mudah pula bagi mereka menahan diri campur tangan soal pendidikan anak-anak. Tapi saya dapati bahwa sejauh ini, saya tetap memiliki wewenang penuh dalam menentukan metode asuh ketiga cucu mereka. Meski sehari-hari anak-anak sering main di sana, tidak pernah Bapak dan Ibu ‘menyelisihi’ soal pengasuhan di depan anak-anak. Memang sih, banyak cara yang kami pun belajar dari mereka. Namun pada beberapa perbedaan, mereka tetap menghargai cara kami (meskipun saya tahu sebenarnya mereka pada mulanya kurang setuju). Sebagai contoh, di antara cara kami menyelesaikan pertikaian antar anak adalah saat seorang menyakiti dengan sengaja, maka yang tersakiti boleh membalas dengan cara yang sama (saya dan suami punya alasan khusus untuk ini, semoga lain waktu bisa saya tuliskan ya). Jelas saja agak ngeri melihat hal ini, tapi mereka bisa menyesuaikan dan setelah melihat hasilnya lama-lama mereka pun bisa menerima metode tersebut.

Kalau dicermati dari kisah saya, memang didominasi dengan keberuntungan saya memiliki latar belakang sama dengan mertua, yakni sama-sama aktivis yang terbiasa berinteraksi dengan banyak orang dan hal-hal baru, sehingga open minded dan terbiasa menghargai keputusan dan ‘gaya’ orang lain. Saya sangat bersyukur dengan hal ini. Tapi saya juga meyakini bahwa ada banyak cara lain untuk membangun independensi keluarga. Sebagaimana kita perlu yakin bahwa jodoh merupakan takdir dan akan diikuti dengan chemistry yang pas dengan pasangannya, maka tentu tiap kondisi hubungan pasangan muda dan orang tuanya akan menemukan customized setting nya. Jika latar belakangnya berbeda, maka tiidak akan ada single standard bukan? Nah, biidznillah saya sudah menemukannya, lalu bagaimana dengan Anda? 😉

 

Sumber gambar: http://www.autostraddle.com/the-ones-we-left-behind-on-being-an-ally-to-small-town-queers-145751/population-sign-on-highway-395-leading-into-independence-ca/

Bantul 26 januari 2015
-berpagi dengan Hilmiya-

 
Leave a comment

Posted by on January 26, 2015 in ibu rumah tangga

 

Tags: , , , ,

Wound

Wound

I saw a wound in my file
Such a hollow painted by nail
Pierced, deep
Taking it along would burden my trip

Seeming nobody could cure
Still, nothing could restore
It ain’t tired of being painful
Why should I keep bringing my sore?
Image source

25012015  01.14 am
Get well soon, Hilmiya… :’)

 
Leave a comment

Posted by on January 24, 2015 in Uncategorized

 

Tags: , , ,

Status

Satu Hujan Dua Rasa

Satu Hujan Dua Rasa

“Berikan anak keleluasaan bereksplorasi atas tiga hal: air, pasir, dan plastisin”. Konon ketiga hal tersebut sangat bermanfaat untuk tumbuh kembang anak.Sudah lama saya mengetahui ‘ajaran’ tersebut, tapi jujur saja saya belum bisa sempurna ‘mengamalkan’nya, terutama urusan air. Oke, saya masih bisa mentolerir dengan menjadwalkan agenda berenang dan memberi mereka ‘alokasi’ wakti bermain air sesaat setelah mandi.  Tapi ada satu rengekan mereka yang hanya akan saya penuhi dengan sederetan syarat dan ketentuan yang berlaku, hujan-hujanan.

Untuk mendapatkan izin saya maka bermain hujan bisa dilakukan saat: 1) Mereka tidak sakit–dalam bentuk apapun; 2) uminya selo dan bisa mendampingi 3) hujan deras tapi langit cerah tanpa halilintar; 4) dilakukan di rumah (karena jika para nenek dan kakek tahu, tentu mereka tidak setuju, hehe). Saya sadari, dalam hal ini saya rempong sangadh 😀 Tapi inilah bentuk ikhtiar saya-dan suami-untuk membiasakan mereka berkomitmen dengan batasan.

Hari itupun tiba: saat syarat dan ketentuan terpenuhi, kakak Taqiyya dan mas Akif pertama kali dalam hidup mereka bermain hujan bersama (sebab musim hujan sebelumnya mas Akif belum bisa jalan). Dan saya pun turut menikmati, manakala melihat betapa keunikan karakter masing2 sangat nampak melalui cara mereka menikmati hujan.

 

Dua kakak beradik ini senang sekali saat saya izinkan bermain di bawah hujan deras. Tapi lihatlah, meski sama2 nampak ceria, ada yang sangat berbeda dari mereka saat ‘menikmati’ hujan. Perbedaan ini mewakili sebagian keunikan masing-masing.

image

Yang satu dengan riangnya memilih basah kuyup di bawah derasnya air yang turun. Seperti biasa-antusias, riang, spontan, serta sangat ekspresif dalam mengungkapkan kegembiraannya.

 

 

image

Satunya lagi memilih berpayung. Senyum kalem, bergerak konstan, dan mengutamakan kenyamanan-mempertahankan payungnya bahkan hingga selesai bermain.

Alhamdulillah ala kulli hal. Mereka memang berbeda, dan keunikan sang pribadi tersimpan dalam perbedaan tersebut. Sama-sama spesial.

Hmm… Jadi tak sabar menanti tahun2 berikutnya, menyaksikan partner mereka bertambah, dan seperti apa gaya masing-masing menikmati hujan..qiqiqi

#latepost #januari2015

 
Leave a comment

Posted by on January 23, 2015 in being parents

 

Tags: , ,

Kakak dan Pilihannya

Serasa baru kemarin kakak Taqiyya (4,5 tahun) selalu merengek minta ikut tiap saya atau suami pergi. Seperti hanya kemarin juga, kami merasa stress mencari cara yang benar dan tepat saat harus meninggalkannya untuk bekerja atau aktivitas lain yang tidak memungkinkan anak-anak diajak. Tapi pagi ini, saat saya dan suami mengajaknya ke sebuah acara pengajian di jalan gambiran, serta merta ia menolak, memilih diantar ke tempat Si Mbah untuk bermain dengan teman-teman sebayanya (meski di detik-detik akhir memutuskan ikut). Dan ini bukan kali pertama kejadian kakak ‘tidak memilih kami’. Saya sedih? Entahlah… hanya saja mulai merasa kehilangan sesuatu…

Pengalaman ini membenarkan pendapat bahwa masa kanak-kanak adalah masa yang amat singkat, sehingga jangan sampai kita kehilangan masa-masa istimewa tersebut untuk membangun kedekatan yang maksimal dengan anak-anak. Titik inipun menyadarkan kami bahwa–bagaimanapun–kami masih memiliki kesempatan panjang, sebab Taqiyya baru berumur 5 tahun. Insya Allah masih ada waktu untuk menyempurnakan ikhtiar kami, sampai akhirnya ia menginjak masa remaja dan benar-benar menemukan dunia barunya 🙂

Diantara persoalan yang kami perhatikan adalah menghindari pemaksaan dalam bentuk apapun. Paling hanya mentok mempersiapkan sejak jauh-jauh hari jika akan mengajaknya, dengan segudang rasionalisasi dan ‘iming-iming’ hal menarik apa yang akan ia temui jika turut pergi. Selain itu, hal yang sederhana namun juga penting adalah, menjaga ekspresi jika ternyata pilihannya benar-benar tidak bersesuaian dengan harapan kami. Misalnya, saat kami sudah berjanji dengan teman untuk sama-sama mengajak anak-anak dalam sebuah pertemuan, tentu kami akan merasa bersalah saat tidak bisa memenuhinya lantaran kakak memilih tidak ikut, lalu secara spontan ekspresi yang keluar adalah kecewa.

Hmm…berat juga..harus tarik nafas dalam-dalam dulu agar yang muncul adalah ekspresi yang pas dan tidak ada kesan emosional, apalagi marah-marah tidak jelas. Sebab, ada tugas lain yang menanti saat ia memilih sesuatu yang berbeda dengan harapan kami: yakni memastikan bahwa yang dipilihnya pun merupakan pilihan yang baik. Jika ia memilih bermain, maka rambu-rambunya harus jelas dan sama-sama disepakati. Jika ia memilih di rumah saudara, perlu ada komitmen juga untuk menjaga batasan-batasan seperti soal nonton TV, makan, tidur siang, kesopanan dan sebagainya.

Ribet ya… hehehe. Paling tidak, saat kami berusaha menghormati pilihannya, kakak juga hendaknya mengimbangi dengan berusaha menjaga kepercayaan kami. Dan ini akan kami evaluasi saat bertemu kembali (dengan kemasan yang ringan dan natural tentunya).

Jujur kadang saya merasa ragu dan berulangkali bertanya, tepatkah treatment ini untuk anak seusianya? Atau berlebihan? Salah satu tolok ukur yang kami gunakan adalah reaksi/respon kakak terhadap sikap dan kebijakan yang kami ambil. Alhamdulillah sejauh ini dia enjoy, dan menikmati apa yang dipilihnya (meskipun sejauh ini, ada lebih banyak pilihannya yang bersesuaian dengan keinginan kami). Harapan saya, semoga ikhtiar ini adalah pondasi awal untuk membangun kepercayaan dan sikap respek yang akan sangat kami butuhkan di fase-fase selanjutnya, remaja hingga dewasa.

Baiklah, saya memang bukan psikolog atau ahli tumbuh kembang. Bacaan saya juga sangat sedikit. Dalam beberapa hal, yang saya gunakan adalah intuisi dan bekal pengenalan saya terhadap anak. Oleh karena itu, melalui tulisan ini semoga kelak ada yang bersedia berdiskusi lebih jauh (yang membaca mungkin?) sehingga insya Allah menambah perspektif saya.

Akhir kata… selamat menikmati tiap momen kebersamaan dengan anak-anak Anda!

 
Leave a comment

Posted by on June 29, 2014 in being parents

 

Tags: , , , , , ,

Nursing while Pregnant (NWP): Sepenggal Kisah “Si Kembar” Akif dan Hilmiya

Bagaimana perasaan anda saat tahu bahwa anda hamil padahal si kakak belum lagi bisa berjalan dan belum pula tersiapkan memiliki adik? Panik? Sedih? Merasa bersalah? Khawatir berlebihan?

Kira-kira itulah yang saya bayangkan sebagai seorang ibu pada umumnya..hingga akhirnya Allah memberi kesempatan mengalami sendiri kondisi tersebut. Yap. Tepatnya saat mas akif (anak kedua saya) berumur 10 bulan, saya positif mengandung. Surprise, yg pertama kali saya lantunkan adalah syukur, “Allah beri saya kesempatan untuk belajar hal baru: nursing while pregnant (NWP, atau menyusui selama kehamilan)… bisakah saya menjalaninya?”. Izinkan saya berbagi, berikut ini kisahnya:

Wacana NWP sudah sempat saya ketahui sebelumnya, baik prinsip dasar, tips umum, maupun kisah para ibu yang berhasil menjalaninya. Jujur saja saya tertantang.. ini hal menarik. Terutama pada bagian yang menceritakan bahwa sesungguhnya tubuh kita memiliki mekanisme otomatis untuk menentukan prioritas penyaluran asupan: pertama untuk janin, lalu supply asi untuk kakak, dan baru kemudian bagi si ibu sendiri. Sehingga mitos yang berlaku bagi kebanyakan orang “kasihan bayinya” sungguh tidak berlaku dalam hal ini. Dan tentu saja, dengan menjalani NWP ibu dapat terbantu untuk mengeliminasi perasaan bersalah yang sering muncul bagi para ibu yang hamil saat anak sebelumnya belum sapih, yang alih-alih menjadi solusi malah justru menambah masalah lain–hemat saya–berupa si kakak yang rewel dan kehamilan yang tidak berkualitas (akibat ibu terlalu merasa bersalah).

Lalu apa saja yang saya lakukan untuk bisa sukses NWP?

Pertama, mohon kekuatan Allah. Sebab Allah lah yang beri amanah berupa anak-anak ini, tentu Dia Maha Tahu batas kemampuan saya. Doa yang selalu saya panjatkan, jika memang ini yang terbaik maka berikan hamba kekuatan untuk menjalani (menyusui keduanya hingga tuntas-sapih) atau jika ini kurang/tidak baik maka mudahkan hamba dan mas Akif untuk melalui proses sapih (weaning with love a.k.a. WWL).

Kedua, asupan gizi. Dalam hal ini tidak ada tips khusus. Hanya menganut makan lah setiap merasa lapar (hehehe..gue banget nih) dam sebervariasi mungkin (tidak ada pantangan selama tidak berlebihan). Minum? Nah ini yang sangat penting. Sebab yang paling terasa memang sangat mudah haus. Sehari saya bisa menghabiskan air putih (minimal) 3 liter.

Ketiga, konsul dokter. Berbeda dengan kehamilan sebelumnya yang saya cukupkan untuk ANC bidan saja, kali ini saya rutin konsultasi dokter untuk mendapatkan legitimasi medis bahwa janin saya baik-baik saja. Alhamdulillah ketemu dokter yang sangat open dan mendukung untuk NWP selama tidak ada keluhan saat menyusui (umumnya terjadi kontraksi, sebab hormon untuk ngASI sama dengan hormon kontraksi, yakni hormon cinta oksitosin). Dan konsul dokter jualah yang membantu saya menjelaskan kepada lingkungan yang ‘ngeri’ tahu saya NWP termasuk keluarga. Saya bilang, dokter mbolehin kok! Dan masalah selesai 😀

Keempat, dukungan suami. Nah ini tidak kalah penting. Terutama di masa-masa sulit misalnya saat aerola terasa sakiiit saat kenyotan awal. Dipijitin suami dan kata-kata motivasi rasanya seneeeeng banget. Juga saat si kakak sakit dan rewel sehingga maunya nemplok terus, sang ayah harus punya sejuta jurus untuk menghibur atau mengalihkan perhatiannya sesaat sebelum ibunya siap ditemplokin lagi.

Terakhir, sounding baik kepada kakak maupun adiknya yang di perut. Meski belum bisa berbicara lancar (apalagi yang masih di kandungan), saya yakin sebenarnya mereka punya kemampuan memahami. Tiap nenen saya bilang ke adik, ini mas lagi nenen… adek sabar sebentar yaa yang rileks. Sebaliknya, ke kakaknya saya juga bilang, mas nenennya hati-hati yaa…ada adek yang harus kita jaga juga..kan anak-anak ummi pintar berbagi. Begitu diulang terus…tanpa peduli bagaimanapun respon mereka.

Alhamdulillah ala kulli hal… dengan penuh perjuangan (jiaahhh), atas izin Allah, fase NWP sudah terlalui. Mulai fase awal aerola sakit, fase rewel karena produksi ASI berkurang, fase perubahan ASI jadi kolostrum di bulan keempat, fase ASI tdk keluar sama sekali, juga saat mas akif sakit, kelak akan menjadi masa yang kami kenang, syukuri, dan sekaligus kami rindukan.

Saat saya menulis ini, Mas Akif dan Adek Hilmiya sudah 2 bulan tandem nursing (menyusui kakak adik dalam waktu bersamaan). Kapan-kapan insya Allah saya kisahkan secara khusus yaa 😉

Bantul, 27 juni 2014

image

 
Leave a comment

Posted by on June 27, 2014 in being parents

 

Tags: , , , , , ,

Tips Bikin ART ‘Langgeng’

Namanya Lasinem, kami biasa memanggilnya Mbak Las, anak-anakku memanggilnya Bude Las. Beliau sudah menjadi bagian dari keluarga kami (keluargaku dari pihak suami) selama lebih dari 20 tahun, sangat memahami seluk beluk keluarga ini. Sosok penyayang yang satu ini juga pembelajar sejati, meski tak berpendidikan tinggi. Kurang lebih dua minggu lalu beliau mengkhatamkan bacaan biografi Chairul Tanjung Si Anak Singkong. Tamat! Padahal aku sendiri baru melihat tebal bukunya saja sudah enggan. Sehari-hari jika ada waktu luang, beliau memilih membaca. Koran, resep, tips sehat, menonton acara TV pun sangat selektif. Beliau sangat telaten mengurus anak-anak. Beliau juga mampu menjaga ‘rahasia’ keluarga. Siapakah beliau? ‘orang luar’ menyebutnya (maaf) pembantu, atau bahasa kekiniannya ART (asisten rumah tangga), bahasa jawanya rewang, bahasa islaminya khadimat. Tapi bagi kami, beliau sungguh bagian dari keluarga. Bahkan untuk sekedar menyebutnya sebagai ‘rewang’ saat ada kenalan yang bertanya saja sungguh lidah ini tidak mampu. Ya, karena suah sebegitu dekatnya beliau dengan kami.

Mengapa aku bercerita tentang Mbak Las disini? Barangkali kebutuhan ART di dunia modern ini semakin signifikan, sedangkan mencari ART yang sreg di hati dan mau bertahan lama (konon) sangat sulit. Aku sendiri pernah 2 bulan ber-ART, namun akhirnya kupulangkan sebab beberapa hal ketidakcocokan. Oleh karena itulah, maka akan kutuliskan sekelumit hasil perbincanganku dengan ibu (ibu mertua) mengenai kiat-kiat beliau membina hubungan baik dengan Mbak Las.  Apasajakah langkah yang bisa dilakukan untuk membuat ART ‘langgeng’? Simak berikut ini:

1. Jadikan ART bagian dari keluarga

Statusnya tidak tanggung-tanggung, Yes, she belongs to our family. Disesuaikan usia tentunya. Kalau cocok sebagai kakak, ya diposisikan sebagai kakak. Di keluarga, semua anak cium tangan saat harus ‘salim’ dengan Mbak Las, sebagaimana seorang kakak. Sehari-hari, kepada beliau adik-adik juga terbiasa berbahasa jawa halus–sebagaimana dengan yang lebih tua. Tidak pernah ada anak-anak ibu yang berani ‘memerintah’ beliau untuk urusan sepele (sambil bayangin adegan sinetron..hehe). Saat lebaran dan berbelanja baju, ada jatah baju juga di luar THR. Bahkan, saat keluarga besar bikin seragam trah, beliau juga kebagian 🙂

2. Berikan ia ‘ruang privasi’

Ada prinsip unik ibu yang diterapkan untuk menanamkan tanggung jawab pada diri si mbak. Awalnya aku merasa aneh, but it works. Sebagai contoh, saat hari-hari tertentu beliau minta izin untuk pulang kampung, maka ibu tidak tahu dan tidak akan pernah bertanya kapan mbak Las kembali. Ya, sepintas aneh. Tapi ibu melakukan itu bukan tanpa tujuan. Inginnya ibu, kalaupun beliau kembali itu murni karena kesadaran dan rasa tanggung jawab yang besar. Sebagai ‘orang baru’, kadang aku berpikir juga, nah kalau nggak balik gimana? kenyataannya balik terus tuh. Tentunya ini tidak berdiri sendiri, tapi dari contoh tersebut tentu tergambar ‘misi’ unik yang dijalankan ibuku.

3. Libatkan ia dalam proses belajar

Setiap ada informasi baru dunia kesehatan atau parenting, ibu tidak segan-segan berbagi dengan Mbak Las. Saat nonton TV bareng misalnya, sering muncul topik diskusi ringan berdasarkan tayangan yang sedang ditonton. Selain itu, ibu juga membebaskan Mbak Las untuk membaca bacaan apapun yang ibu miliki di rumah: majalah, koran, novel, dan sebagainya.

4. Keteladanan

Dalam mendidik anak, ibuku tidak pernah menerapkan standar ganda. Sebagai contoh, konsep menghargai yang lebih tua. Tidak peduli apapun ‘status sosial’nya, jika ia lebih tua, maka siapapun harus menghormati. Tak terkecuali kepada Mbak Las. Jika membelikan sesuatu untuk anak-anaknya, ibu pun selalu menjatah satu barang yang sama untuk mbak Las. Keteladanan beliau memperlakukan khadimat dengan baikpun, pada akhirnya diikuti oleh kami semua. Dalam beribadah, ibu tidak pernah ‘menyuruh’ mbak Las sholat tepat waktu, berjamaah di masjid, sholad dhuha, tahajjud, menutup aurat, dsb, tapi semua itu konsisten beliau amalkan. Beliau hanya mencontohkan, membiasakan, dan dengan demikian tercipta kultur yang kondusif dalam keluarga sehingga Mbak Las pun mengikutinya.

5. Ringankan bebannya

Rata-rata mental keluarga berkhadimat adalah: jika ada si Mbak, kenapa harus kita kerjakan sendiri? namun tidak demikian dengan ibu. Dari ibu kami belajar kebiasaan sebaliknya: jika ada yang masih bisa kita kerjakan sendiri, kenapa harus meminta mbak Las? Barangkali aneh, tapi nyata manfaatnya. Dari prinsip tersebut muncullah hubungan partnership–mbak Las adalah asisten, dan peran mereka saling melengkapi. Meski sehari-hari sibuk, ibu tetap meluangkan waktu untuk menyapu, mencuci piring, menyeterika di hari libur, menanak nasi, dan berbelanja keperluan makan sehari-hari. Beliau juga membiasakan putra-putrinya untuk turut berperan dalam mengelola rumah, meskipun kecil perannya, namun tentu sangat meringankan beban mbak Las.

Kelima hal tersebut hanyalah ikhtisar saja dari perjalanan Mbak Las di keluarga ini. Apalagi, hanya berdasar kesimpulanku saja yang baru mengenal beliau tak lebih dari 5 tahun. Tapi semoga tips tersebut bisa membantu siapa saja (termasuk diriku sendiri) untuk membuat ART langgeng sehingga tercipta tim yang solid untuk menjalankan urusan harian rumah tangga. Semoga bermanfaat 🙂

 
4 Comments

Posted by on July 9, 2013 in ibu rumah tangga

 

Tags: , , , ,